skip to main | skip to sidebar
Animated Dragonica Star Glove Pointer

Pages

  • Profil
  • Karyaku
  • Tugas
  • Memory
Welcome... Blog Education With Me

Cerpen _ Misteri Ramalan Sihir

Selasa, September 23, 2014 | Publish by Unknown

Cerpen
Misteri Ramalan Sihir


Hari ini puncak Bukit Barisan tertutup kabut. Kehijauan puncaknya terlihat samar karena tertutup kabut putih. Dari tingkat dua ruang kelas di SMU Negeri 2 ratu, aku memandangi kabut tipis dengan perasaan galau.
Hatiku memang tengah gundah. Kegundahanku sebenarnya dimulaisejak dari rumah tadi pagi. Ketika keluar dari kamar,aku  kaget menemukan rumah sudah kosong. Jam menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit. Dua puluh menit lagi bel pertama berbunyi. Mengapa tak ada yang membangunkanku? Kemana orang-orang serumah,ya?
Ma...,mama....!’’ aku mengetuk  pintu kamar mama untuk membangunkannya.tak ada  jawaban.
Aku langsung ke kamar mandi.selesai mandi,cepat-cepat aku berpakaian dan menyambar tas diatas meja belajar. buku-buku kumasukkan seadanya. melewati kamar mama,aku lagi-lagi heran.pintu kamar mama masih terkunci rapat. dentang jam dinding menunjukkan pukul tujuh membuatku tak sempat berpikir panjang.melewati pintu depan yang terasa lebih ringan dari biasanya aku langsung  menyetop becak.sialan,si abang becak malah cuek aja.belari kecil aku mengajar becak yang seolah tak mempedulikanku.aku melompat naik.
“ratu 2,bang ,”  kataku pada tukang becak yang tetap cuek.becak melaju santai.berkali-kali aku melotot pada tukang becak,tapi dia tetap seolah menganggapku tak ada.
“becak’’,panggil seorang ibu.
Herannya becak menepi dan si ibu yang bertubuh subur naik hingga aku hampir terjepit. cepat-cepat  aku melompat turun sambil menggerutu. “memangnya angkot.”becak sudah ada penumpangnya kok di-stop. Mana becaknya mau lagi. memangnya  tak ada becak lain. “aku ngedumel panjang pendek.
Aku berjalan ke sekolah yang memang sudah tidak terlalu jauh. Beberapa  teman yang kutemui terlihat murung dan berbicara sesekali dengan suara pelan. Tak ada yang bercanda dan meledekku seperti biasa.
Akhirnya sampai juga aku di depan gerbang. Pak mukri berdiri di depan pos. Aku melewatinya sambil  menunduk. Dia paling sering menegurku karena  aku suka melinting lengan bajuku . tapi kali ini beliau tak memperdulikan aku. “mungkin dia bosan menegurku terus,” pikirku.
***
Lama aku terdiam dipuncak bukit Barisan, menghirup udara segar dengan pemandangan yang masih asri. Seolah membuatku lupa ketika melihat jam tanganku dan itu? Tanda istirahal pertama sudah berakhir. Secepat mungkin aku berlari menuju kelas. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh, baru kusadar ternyata lantainya itu masih basah karena habis di pel. Sangking terburu-burunya sampai-sampai aku tidak melihat akan keadaan lantai itu yang masih basah..
“Mungkin guru matematika sudah berada dikelasku ini. Lalu bagaimana denganku nanti?”pikirku. Aku mencoba berdiri dengan hati-hati dan mencoba menenangkan fikiranku. Untung saja cuma kakiku yang sedikit keseleo. Dengan sisa tenagaku, aku berusaha berdiri dan aku berlari kecil menuju kelas. Tak cukup lama, akhirnya aku telah beda di depan kelas. Dan lihatlah akan keadaan kelas? Ternyata tebakanku gak salah, pak john selaku guru matematika sudah berada di dalam kelas, seketika itu pikiranku jadi tak tentu, mau masuk? Tapi takut. Nahh kalau gak masuk? Apalagi itu, bisa-bisa  aku diskors karena gak ikut jam prelajaran. Ya memang seperti itulah ketatnya peraturan dalam sekolahku ini. Tidak ikut pelajaran walau itu hanya satu jam, hukumannya 7 hari diskors, parah banget bukan?. Dengan sedikit keberanian, aku masuk dalam kelas dengan memasang wajah melasku, berharap kali ini pak Jhon memakluminya.
”Permisi,,”awalku sebelum masuk kelas, seketika itu pak John langsung menatapku dengan tatapan yang sangat mengerikan, matanya melotot besar, seperti mau keluar dari lubangnya,
“Ma,,maaaf pak saya telat”ucapku tebata, mungkin karena ketakutan.
“Velia habis dari mana aja kamu?”tanya pak John walau tak dengan nada tinggi tapi nada itu seolah mengisyaratkan sebuah kemarahan. Yup Velia Maurin Anatasya itu lah nama lengkapku, kalau velia  itu nama panggilanku
”Em..aanu pak…itu…em”gugupku
“Am em am em,ii itu pak. keluar kamu sekarang tidak usah ikut pelajaran”
“Tapi pak…”
“Apa mau saya tambahi hukumannya”ancam pak John
“Iya deh pak,saya keluar sekarang”pasrah, hanya itulah yang bisa kulakukan kini, akupun menuruti apa yang diperintahkan oleh pak John, guru matematika yang terkenal killer itu.
“Kenapa sih? Perasaan hari ini kok gue selalu kena sial mulu, ada apa denganku?”batinku, tidak sadarkan diri, aku menendang sebuah kaleng bekas yang berada didepan kakiku. Aku menendangnya sekuat tenaga, dan hasilnya?? Astaga, tak ku sangka  kaleng itu mengenai bu kepala sekolah, “gawatt” batinku. Keadaan sepi, hanya ada aku ditempat ini. Jadi, otomatis bu kapsek langsung tau siapa yang menendang kaleng itu hingga mengenainya. Aku tak sempat melarikan diri, Seketika itu ia langsung menghampiriku dan memberikan tatapan ganasnya. beliau marah-marah, akupun diberi hukuman olehnya untuk membersihkan kamar mandi yang ada diseluruh SMA 2 Ratu, baru setelah itu orangtuaku harus menghadap ke bu kepala sekolah.
***
Aku  masih setia di gerbang karna nunggu jemputan yang  dari tadi belum juga kelihatan. Sedari tadi aku terus  mondar-mandir kayak setrika gak  karuan. Lihat lah, keringat telah bercucuran dari wajahku. Mungkin karna udah lama menunggu, banyangin aja berdiri panas panasan sejak pukul 13.00 WIB   padahal sekarang ini jam sudah menunjukkan  pukul 15.30 WIB. Pasti capek bukan?

“Ish si Coco kemana sih? Kok belum nongol-nongol. Mana udara panas lagi” kesalku.
Tiba-tiba
*Tin tin
 “Hay Cewe Tengil”sapanya dari dalam mobil. Karna aku mengenal suara itu maka ia hanya diam tak bergeming. Yap siapa lagi kalo bukan Bintang Dewa Langit atau lebih akrabya Bintang
“Nih orang budek apa tuli sih?”Batinnya. Karena gak dapet respon dariku maka Bintang memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya.
“Woyyyy cewe tengil. Loe budek apa tuli sih?”teriaknya tepat ditelingaku.
“Ish loe tu apa-apan sih? Loe ngapaen teriak-teriak ditelinga gue? Loe kira gue budek apa?”teriakku tak kalah kerasnya
“Loe denger? Ups gue kira loe budek”Ledeknya
“Udah deh  Kalo loe ngajak ribut mending loe pergi aja” Kesalku lalu mendorong tubuh Bintang, namun bukannya dia yang  jatuh malah jadi aku yang terjatuh, mungkin karenaku  terlalu kuat mendorongnya ya jadi aku kehilangan keseimbangan. Dia tertawa puas melihatku, “Aissh, kenapa pake jatuh segala.”batinku segera bangkit. “Puas loe? Tertawa aja sampe puas!”sentakku tepat di depan mukanya lalu cepat-cepat aku pergi dari hadapannya.
***
Dibawah terik matahari yang panas, aku terpaksa menyusuri jalanan ini dengan langkah kaki yang berusaha ku tegakkan. Menyusuri tiap lorong jalan yang penuh asap kendaraan. Sedari tadi dalam hati ku terus mengumpat, kalau tak gara-gara si coco yang telat jemput mungkin tak akan seperti ini. “Aish apalagi ini udah hampir petang”Keluhku
            Huftt, akhirnya ku bisa menghembuskan nafasku dengan lega, setelah berjalan kurang lebih 7 kilometer akupun sampai tepat di depan gerbang rumah, Dengan cepat akupun mendekat kearah gerbang dan membukannya tapi sepertinya ada yang tak beres. Lihatlah tumben saja dari luar rumah kelihatan sepi? Segera mungkin aku menepis pikiran burukku, kocoba membuka pintu utama tapi. What kenapa harus kekunci? “kemanakah semua orang? Kalau pergi, mengapa hanya pintu utama yang di kunci? Sedang gerbang”pikirku. Aku terus berusaha menggedor gedor pintu karena aku berharap mereka tak pergi keluar ya mungkin tidur gitu. Namun hati ini menjadi gusar saat sekian lama aku mencoba menggedor-gedor pintu tak ada hasilnya sekalipun. Clink, akupun mendapat ide. Aku merogoh tasku untuk mengambil sesuatu. Syukurlah, aku mendapatkan suatu itu, segera mungkin aku menghubungi mama dan coco, ku mencoba menelpon tapi tak diangkat angkat, aku sudah mencoba beberapa kali tapi tetap saja hasilnya nihil tak diangkat, akupun sudah mencoba mengirimkan sms tapi tak juga tak ada balasan, aku hampir menyerah, ku lirik jam yang ada di pergelangan tangan kiriku, lihatlah ini sudah menunjukkan pukul 16.40 WIB. Tiba-tiba terdengar suara perutku yang amat nyaring, mungkin itu suara karena perutku sudah kosong, maklumlah memang sedari pagi aku belum makan. “Haduhhh sakit sekali perutku. Kenapa perutku jadi sakit seperti ini?”rintihku, “Sial banget tau gak gue hari ini?”Upatku. pasrah aku tak tau lagi harus berbuat apa, mau keluar cari makan tapi sudah terlanjur perutku rasanya teramat sakit, rasanya tubuh ini lemas banget tak ada daya, untuk mengurangi rasa sakit ini kuputuskan untuk istirahat di sofa yang kebetulan berada di teras rumahku.
***
Malam, suasana dipasar malam begitu ramai. Nampaknya semua orang terlihat ceria menikmati suguhan pasar malam yang tak jauh dari rumahku ini. Sebenarnya sih aku terpaksa kesini, yaa kalau gak di paksa coco aku gak mau, pergi ke tempat beginian malam-malam, duhhh mending mah istirahat dirumah iya gak? Ya sih walaupun seru, tapi gak asyik kalau perginya disini aku yang dibuat umpan, masak iya aku diajak pergi tapi aku didiemin? Gak asyik bukan? Lihat tuh masak coco malah sibuk sendiri sama someonenya, nah sedangkan gue? Di cuekin tau gak.
“Hish,,, kalau tau gini mah gak bakal mau gue. Sibuk aja sendiri. Gak dianggap banget tau gak gue disini” Sedari tadi aku terus ngedumel gak jelas.
“Co,,, Coco”panggilku terhadap kakakku tapi tetap aja gak ada respon
“Udah ahh cabut aja. Malesin tau gak”kesalku lalu pergi dari hadapan kakakku
            Setelah lepas dari coco akupun mengitari setiap sudut pasar malam sendirian sesuai naluriku, walau ada sedikit rasa takut karna tempat ini cukup membingungkan.
Tiba-tiba
“Bos, ada cewe cantik nih?”seorang bertubuh besar sempoyongan mendekatiku, maklumlah mungkin habis mabuk nyatanya aja botol whine masih berada rapat digenggamannya.
“Hai cantik”timpal yang satunya ikut mendekatiku. Melihat itupun aku semakin takut, rasa takun ini menjadi tak karuan.
“apaan sih? Lepas gak?”aku hanya bisa memundurkan langkahku, karna hanya itu yang bisa kuperbuat. Aku tak berdaya jika harus melawan mereka.
“tenang cantik kita gak galak kok, kita gak akan nyakitin kamu” katanya sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku, akupun sebisa mungkin menepisnya
“mau apa kalian? Jangan mendekat!” akupun terus melangkah mundur hingga akhir itupun menghampiri. Skak mat Aishh sial kini tubuhku telah dekat dinding, langkahku terhenti. Disini aku sudah tak bisa berbuat apa-apa, hanya untaian kata do’alah yang bisa kuucapkan, aku yakin kekuatan do’alah yang bisa menolongku.
“Aku mohon,,, kalian jangan mendekat”kini suaraku berubah parau
“iya cantik, kita akan lepasin kalian, setelah kita dapat kamu malam ini”kata seorang itu
“Mundur kalian! Tak usah mengganggunya. Jika kalian ingin menyentuhnya sini lawan aku dulu” tantang seorang yang tiba-tiba telah berada di situasi ini
“Bintang”lirihku, yap seorang itu Bintang. Musuh bebuyutanku.
“Hahaha, gimana bos dia ngelawan nih? Enaknya kita apain ni bocah bos? Sok jadi pahlawan dia” remehnya berbicara pada temannya
“Hajar dia”perkelahihan pun terjadi, adu jotos pun seolah tak membuat diantara mereka mengalah, lihatlah padahal wajah mereka sudah banyak luka lebaman akibat slaing pukul, 30 menit kemudian akhirnyapun Bintang mampu mengalahkan meraka.
“Bintang, makasih”ucapku, di hanya tersenyum sekilas
“lagian ngapain, loe malem-malem gini keluyuran sendirian kayak ini?”tanyanya sinis
“Embbb, itu… Ya terserah gue dong. Suka-suka gue mau pergi kemana aja”jawabku yang tak kalah sewot
“nah, kenapa loe jadi sewot gitu? Dah untung gue mau nolongin loe. Kalau gak mau jadi apa loe hah?”
“iya iya, makasih. Karena loe tadi dah mau nolongin gue. Udah kan? Yaudah sana pergi, ngapain loe masih disini?”ucapku dengan nada mengusir
“Dasar, rasain aja kalau nanti ada apa-apa. Gue gak tanggung”umpatnya sebelum ia benar-benar pergi dari hadapanku.
            Setelah kepergian Bintang entah kenapa rasa takut ini kembali menyerang. Aku tak habis pikir ditengah keramaian gini masih aja ada preman-preman seperti tadi.
”Apa mereka gak takut gitu?”Pikirku. Dengan rasa takut yang menyelimutiku aku mencoba mencari coco, sebenarnya itu hal yang mudah sih, gak terlalu sulit juga kan bisa aja tinggal menghubunginya, sudah beres bukan? Tapi  masalahnya disini tak ada alat komunikasi yang kubawa, hpku ketinggalan dirumah. Ya mungkin gara-gara tadi coco ngajaknya maksa jadi gak sempet dibawa hp deh! Ditambah lagi ini memang sudah musim dingin.
Dingin, mungkin hanya itu yang bisa ku katakan untuk malam ini, rasanya tubuh ini sudah menggigil karena terlalu banyak menghirup hembusan angin malam. Maklum saja ini sudah hampir tengah malam. Lihatlah, jam ditanganku berada di angka 11.00 wib, Astaga! Aku lupa, aku harus segera pulang. Haduhh, bisa-bisa kalau tak segera pulang bisa kena marah sama mama, tapi coco? Udahlah ngapain harus ku fikirin, dia kan laki-laki. Jadi pasti bisa pulang nanti-nanti. Kuputuskan aku akan segera pulang menuju rumah. Menurutku suasana pasar malam kali ini menurutku sangat-sangat buruk, apalagi jika teringat tadi saat berada di hadapan 2 preman itu. Aish gak tau deh mau jadi apa, kalau Bintang tak datang tepat waktu dan menolongku. sebetulnya aneh memang, ”Kenapa Bintang  bisa datang tepat waktu? Apa ini semua bagian dari rencananya? Dan preman itu?”itulah sebuah teka-teki yang sedari tadi memenuhi memori otakku, namun segera mungkin aku menepis pikiran buruk terhadap Bintang, karena walau bagaimana dia telah menyelamatkanku.
***
            Kejadian-kejadian aneh itu tidak hanya cukup sampai dihari kemarin, tapi hari-hari berikutnya aku juga kerap merasakan  kesialan-kesialan  yang menimpaku. Mulai dari dihukum guru karena lupa mengerjakan tugas, pernah juga waktu itu dikejar-kejar  orang gak jelas sampai-sampai aku harus bersembunyi ditempat pembuangan sampah, dan yang tak paling tidak aku mengerti mengapa satu persatu temanku menjauhiku? sekarang seolah aku tak dianggap mereka ada. Seperti sampah saja, aku bicarapun tak mereka anggap, aku mendekati mereka, mereka malah pada menjauh. Hufft, kegalauan ini semakin hari semakin menjadi ditambah coco juga, disaat aku kesepian  seperti ini malah sok sibuk dengan urusannya sendiri.
“Tuhan kenapa semua jadi seperti ini? Apakah yang telah aku perbuat tuhan?”sekarang aku ini lagi sendirian, yups dipuncak bukit Barisan, inilah tempat favoritku dikala aku sedih maupun senang, kenapa harus dibukit ini? Karena menurutku, ya memang disinilahtempat pelepas masalah yang penuh dengan kedamaian.
“Oww..owh ternyata seorang Velia Maurin Anatasya bisa galau juga ya, kalau anak-anak tau bisa heboh banget nih”sahut seseorang dari belakang. Suara ini? Aku sangat mengenal suara ini, jadi males deh buat ngladenin ini orang. Namun, tiba-tiba saja ia malah langsung mengampil posisi duduk disampingku, aku tak menghiraukannya.
“gue tau kok kalau loe itu Bintang. Udah deh gak usah ganggu!”kataku keras tapi tak sedikitpun ku menoleh kearahnya.
“Jadi? Maaf deh kalau ganggu, padahal disini gue Cuma mau bantu loe. Tadinya gua heran aja, kenapa akhir-akhir ini loe sering menyendiri terus itu teman-teman kenapa pada ngejauhin loe? Kalau loenya aja gini. Ya pantes lahh.”Bintangpun beranjak.
“Bener juga apa katanya”batinku
“Bintang”panggilku dengan cepat, semoga ini gak telat. Dan ya, Bintangpun merespon dan menoleh kearahku.
”Ya ada apa?”jawabnya agak dingin
“Loe boleh kok disini, silahkan aja gih!”ucapku, terlihat dia tersenyum. Disini ku coba mengakrabkan diri. Kuhilangkan keegoisanku sejenak, kuhilangkan ikatan permusuhanku pada Bintang. sekarang kita disini berteman, best friend. Tak ku sangka, ternyata Bintang itu orangnya jauh dari pikiran burukkku selama ini. Kalian pasti banyak yang tak percaya jika aku langsung  terlihat akrab seperti ini sama Bintang. Padalah  kalian tau sendiri bukan? sebelumnya kita itu musuh bebuyutan. Tak segan-segan aku menceritakan  mengenai kejadian-kejadian yang akhir-akhir ku alami di akhir pekan ini.

Flashback On
            Siang, dibawah teriknya sengatan sinar mentari, aku dan Coco telah berada ditaman kota. Suasana taman kali ini cukup ramai. Puncak keramaian itu bisa dilihat dari sudut paling timur taman. “Keramaian yang tak seperti biasanya”gumamku. Karena aku penasaran, akupun mengajak coco untuk mendekat kesudut timur. Baru aku tau, ternyata yang menyebabkan keramaian disini yaitu karena adanya event bersama peramal.
 “dek, kayaknya seru tuh. Coba yuk?”ajak Coco
“Ogah ahh, coco aja! Adek  mah gak percaya ma gitu-gituan”tolakku
“Ya sih. Ayolah dek, buat seru-seruan aja kok”bujuknya kembali
“Tapi…”raguku. Coco terus memberiku kode permohonan dengan menganggukkan kepalanya, jadi ya lah buat seru-seruan aja, aku pun mengikuti permintaannya. Aku itu memang orangnya tak percaya sama hal-hal gituan, apalgi hasil ramalan. Tapi mengapa kegelisahan itu muncul ketika aku mendapat giliran untuk diramal. Disini aku disuruh mengambil 3 kartu, “deg” jantungku seolah berdegup sangat kencang ketika peramal tersebut mulai membuka dan akan membacakan satu persatu dari hasil kartu yang ku ambil.
“Kartu pertama”ucap peramal tersebut dengan tampang ekspresi yang kurang meyakinkan.
“Untuk kartu pertama, kesialan-kesialan itu akan menghampirimu diwaktu akhir-akhir ini”lanjutnya
“Kartu kedua,”peramal tersebut kembali menampakkan akspresi yang kurang meyakinkan, melihat itu ketakutan ini semakin menjadi.
“Kesialan itu tak akan pernah selesai, hingga tiba masa depanmu”ucapnya untuk hasil kartu kedua
“Sekarang kartu ketiga”peramal tersebut membuka kartunya, tak seperti yang biasanya aku yang awalnya tak percaya sama ramalan akhirnya pun ikut takut juga dengan hasil terakhir karena hasil kartu pertama dan kedua itu memang benar-benar ku alami.
‘Bersyukurlah untuk kartu ketiga, kartu ini jawaban dan akhir dari misteri kartu pertama dan kartu pertama dan kartu kedua”ucapnya sambil tersenyum mendengar itu akupun ikut tersenyum.
“Dari kartu ketiga saya melihat.kesialan itu akan berakhir ketika kamu menyadari kesalahan di masa lalumu. Dan kamu berjanji untuk itu”lanjut peramal tersebut.”Sebetulnya aku tak mengerti dengan apa yang dimaksudnya, kesalahan masa lalu? Kenapa ia terus menyebut kesalahan masa lalu? perkataannya membuatku bingung, aku mencoba menepis pikiran burukku mengenai perkataan peramal tadi, namun tetap aja. perkataannya masih terngiang jelas di benakku. Hingga aku keluar area, aku masih merasakan efek rasa takut dan heran. Semua itu terlihat tiba tiba saja wajahku yang berubah pucat melihat keadaanku yang berubah seperti ini membuat coco bingung,dia terus menanyakan apa yang terjadi denganku.
“dek, kenapa?? gak apa apa kan? Itu kenapa muka kamu jadi pucet?”beribu pertanyaan coco menghantamku. Aku hanya bisa menjawabnya dengan menggeleng, seolah aku sudah tak mampu lagi untuk berbicara, mulutku bungkam seribu bahasa setelah mendengar ucapan peramal tadi, awalnya aku yakin kalau uacapan itu tak mungkin benar. Tetapi ketika aku mendengar ucapannya tubuhku menjadi kaku, entah mengapa pikiran itu cepat merasuk dalam fikiranku .
“co, pulang yuk! Tiba-tiba badan adek gak enak nih”ajakku yang akhirnya angkat bicara. Coco mengangguk sebagai tanda setuju.
Flashback Off
“Bin, loe percaya gak sama peramal?”tanyaku pada Bintang
“hasil ramalan?”tanyannya. aku mengangguk
“embbb,, percaya gak percaya sih”lanjutnya
“tapi, mengapa yang dikatakan bener semua? Semuanya bener terjadi. Kesialan ini juga sebelumnya udah dikatakan sama peramal”ceritaku
“udah ahh gak usah terlalu difikir. Percaya aja kalau itu cobaan”ucap Bintang
“jujur aku bingung atas ucapannya. Peramal tersebut selalu menyebut kesalahan masalalu Bin. Apa maksudnya? Terkadang memori ingatanku juga membawaku ke situ tapi aku tak bisa mengingatnya jelas”lanjut ceritaku
“apa kamu punya kesalahan dimasa lalu? Atas perbuatan atau ucapan gitu yang gak kamu sengaja?”tebak Bintang
“aku gak tau. Soalnya ingatanku terlalu lemah untuk hal itu”jawabku mulai pasrah
***
          Lelah, itulah yang kurasakan karena aktifitas seharian ini. Ditambah lagi pikiranku yang terpenuhi atas ucapan peramal minggu lalu dan kejadian kejadian aneh yang terus menimpaku.
“Aishh…..kenapa jadi seperti ini, ku mohon hilanglah dari fikiranku. Jangan membuatku tersiksa”ucapku dengan nada memohon sepertinya aku sudah tak kuat lagi. Kali ini kepalaku benar-benar pening, mungkin karena ku paksa untuk memikirkan mengenai ucapan peramal tadi. Aku terus berfikir dan mengingat apa sebenarnya kesalahan masa laluku itu, tapi aku tak mampu mendapatkan itu namun tiba tiba saja aku mendengar suara…….
“Ketauhilah nak, jika kamu tetap seperti ini maka keburukan akan menimpamu secara bertubu tubi”suara begitu jelas dan berulang-ulang. Sejenak, aku terdiam. Aku kembali mengingat dangan sisa-sisa memoriku. Aku tak tau apa maksud dari itu. Dengan sisa tenagaku aku mencoba mengingat apa yang telah ku perbuat yang berkaitan dengan itu namun tiba-tiba saja memori otakku membawaku mengingat kejadian waktu itu. Kejadian dimana waktu  itu aku tengah buru-buru.
Flash back On
              Jam dinding dalam rumahku telah menunjukkan pukul 07.00 lebih, dalam keadaan seperti ini aku bingung. Aku harus berangkat ke sekolah cepat sekali. Ini udah terlambat, maka itu aku cepat  menuju gerbang rumah dan kebetulan disitu ada motor, aku yang sejatinya belum mahir mengendarainya terpaksa membawa motor itu. Aku membawa motor itu sangat kencang. Kencang sekali, hingga akupun menabrak seorang nenek-nenek, dalam keadaan itu aku bingung antara menolong atau  aku biarkan. Dan karena akunya juga sedang buru-buru akupun melaju terus tanpa memperdulikan nenek tadi, samar –samar dari telingaku dia berkata
“Ketauhilah nak, jika kamu tetap seperti ini,maka keburukan akan menimpamu secara bertubi-tubi hingga kau mau berubah akan merubah sifat dan sikapmu. Dewasalah nak!”
Flash back Off
Ingatan itulah yang tiba-tiba muncul dalam benakku. Akupun menggali apa maksud perkataan nenek itu. Cukup lama aku berfikir, akhirnya aku tau dimana letak kesalahanku selama ini. Aku menyadarinya bahwa selama ini memang sifat dan sikap ku yang tak bisa dewasa, aku selalu menggantungkan banyak orang, juga selalu meremehkan orang. Dari sini, mulai hari ini aku berjanji tuk tidak mengulanginya lagi, aku berusaha merubah semuanya.
Satu bulan kemudian ….
Kehidupanku kembali normal, kesialan-kesialan itu tak lagi muncul. Disekolahpun aku tak lagi dimusuhi.semuanya telah kembali, malah kembali lebih indah menurutku.


-TAMAT-

Tokoh : Aku ‘Velia Maurin Anastasya
Bintang Dewa Langit
Coco atau Rafael

Alur : Maju Mundur
Latar Waktu : jam sekolah, jam istirahat,
Latar Tempat :Sekolah, Rumah, Pasar malam, Bukit Barisan, Taman Kota.
Latar suasana : Menegangkan
Tema :Karma, Proses menuju kedewasaan.
Amanat : Hati-hatilah dengan perbuatan dan ucapanmu, karena kelak bisa berakibat padamu, berdewasalah untuk menghadapi sesuatu, jangan selalu menggantunkan orang dan menganggap orang remeh walau itu dalam waktu terpepet sekalipun.

Label: Karyaku, Tugas 1 komentar
1 Response
  1. lina Says:
    24 September 2014 pukul 01.30

    ooow oww


« Posting Lebih Baru Posting Lama »
Langganan: Posting Komentar (Atom)
- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/02/cara-membuat-efek-animasi-bayi.html#sthash.hUErvlsg.dpuf

Menu Qt

  • Bahasa indonesia
  • BK
  • Dear Deary
  • Karyaku
  • Kewirausahaan
  • Laporan PKL
  • link download
  • Memory
  • Profil
  • Sejarah Lingkungan
  • Sistem Aplikasi
  • Tentang Mafa
  • Tkj
  • Tugas
google. Diberdayakan oleh Blogger.

Hay sobat, Nama aku Velia alias Vika Amelia HiHiHi :) semoga info-info yang aku berikan bermanfaat

Unknown
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2016 (4)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ▼  2014 (22)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ▼  September (4)
      • Profil Mambaul Falah
      • Opini Indonesia sejahtera dengan demokrasi anti ko...
      • Cerpen _ Misteri Ramalan Sihir
      • Modul IPS SMK X BAB I " INTERAKSI SEBAGAI PROSES S...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
Copyright (c) 2010 Welcome... Blog Education With Me. Design by Template Lite
Download Blogger Templates And Directory Submission.